Syaikh Al-‘Allamah Al-Utsaimin menjelaskan, “Turunnya Al-Qur’an terbagi menjadi dua yaitu ibtida’i dan sababi.

Pertama, secara ibtida’i:

وهو ما لم يتقدم نزوله سبب يقتضيه وهو غالب آيات القرآن

Yaitu turunnya ayat tanpa didahului oleh sebab tertentu dan ayat-ayat Qur’an keumumannya seperti ini.

Kedua, secara sababi:

وهو ما تقدم نزوله سبب يقتضيه

Yaitu turunnya ayat yang didahului oleh sebab tertentu yang melatarbelakanginya. Sebab-sebabnya antara lain:

1. Pertanyaan yang dijawab oleh Allah seperti ayat, “Mereka bertanya kepadamu tentang hilal, katakanlah hilal itu adalah waktu-waktu bagi manusia dan bagi (ibadah) haji.” (Al-Baqoroh: 189)

2. Peristiwa yang membutuhkan bayan (penjelasan) dan tahdzir (peringatan) seperti ayat, ”Dan jika kamu tanyakan kepada mereka niscaya mereka akan berkata, “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja. Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rosul-Nya kamu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf karena kamu kafir setelah beriman.” (At-Taubah: 65-66)

Ayat ini turun terkait celotehan orang munafiq yang mengejek Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam dan shohabatnya dengan perkataan, “Kami tidak pernah melihat orang yang paling besar perutnya, paling dusta lisannya dan paling penakut tatkala bertemu dengan musuh selain para pembaca Qur’an kita ini.”

3. Kasus yang butuh diketahui hukumnya seperti ayat, ”Sungguh Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya dan dia mengadukannya kepada Allah dan Allah mendengar perbincangan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Al-Mujadilah: 1). (Ushul Fit Tafsir hal. 13-14)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here