Oleh Siswo Kusyudhanto

Para pelaku bom bunuh diri sering menggunakan hujjah kisah heroik Al Barra’ bin Malik(saudara dari Anas bin Malik, pembantu setia Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam) dalam menaklukkan benteng musuh untuk membenarkan tindakan mereka. Bahkan ada ustadz ahli hadist yang lagi naik daun juga pernah menyatakan bunuh diri dibenarkan juga mengambil dari kisah ini yang termuat dalam Kitab Siyar A’lamin Nubala’atau ringkasnya kitab Al-Siyar, adalah sebuah kitab ensiklopedi tentang sejarah dan biografi dari tokoh-tokoh yang berperan di dalam sejarah Islam yang ditulis oleh Imam Adz-Dzahabi.
Berikut sepenggal kisahnya :

“Lalu Al-Barra’ bersama kaumnya menggempur orang-orang musyrik itu. Ia memporak-porandakan barisan lawan dengan garangnya. Pedang senantiasa ia tebaskan ke leher musuh-musuh Allah, hingga Musailamah dan pengikutnya menjadi gentar.

Musailamah dan pengikutnya berlindung di sebuah kebun yang dikenal dalam sejarah dengan nama “Kebun Kematian”. Dikenal demikian karena teramat banyaknya pasukan yang tewas di kebun itu. Kebun itu memiliki dinding yang tinggi. Musailamah dan sisa pasukannya menutup pintu kebun. Mereka berlindung di balik tembok yang tinggi sambil menghujani pasukan muslimin dengan anak panah. Seakan anak panah itu hujan yang turun, saking sangat banyaknya.

Pada saat itulah, sang ujung tombak muslimin nan pemberani tampil, yaitu Al-Barra’ bin Malik. Al-Barra’ berkata, “Kawan, letakkan aku di atas perisai. Letakkan perisai itu di atas tombak, lalu lemparkan aku ke dalam kebun, dekat dengan pintu. Entah aku nantinya mati syahid atau aku akan membukakan pintu untuk kalian.”

Dalam sekejap mata, Al-Barra’ duduk di atas perisai. Badannya amat ringan. Puluhan tombak mengangkatnya, lalu ia dilempar ke dalam Kebun Kematian, di tengah ribuan pasukan Musailamah.

Al-Barra’ turun di tengah mereka bagaikan petir. Al-Barra’ terus menyerang mereka di depan pintu. Pedang senantiasa ia tebaskan ke leher lawan. Sampai ia berhasil membunuh belasan orang musuh. Lalu pintu dibukanya.

Al-Barra’ mendapatkan lebih dari 80 luka akibat panah dan sayatan pedang.

Kaum muslimin menyerbu Kebun Kematian, baik dari atas dinding maupun dari pintu-pintunya. Pedang-pedang mereka menebas leher orang-orang murtad yang berlindung di balik dinding Kebun Kematian. Kaum muslimin berhasil menewaskan sekitar 20.000 orang.

Sampailah mereka kepada Musailamah dan menewaskannya.

Al-Barra’ bin Malik dibawa ke tendanya untuk diobati. Khalid bin Al-Walid sendiri yang langsung menangani perawatannya selama satu bulan. Kemudian sembuhlah Al-Barra’ atas kehendak Allah.

Allah menentukan kemenangan bagi kaum muslimin melalui tangannya.

Al-Barra’ bin Malik Al-Anshari senantiasa mengharapkan mati syahid yang telah luput pada saat berada di Kebun Kematian. Peperangan demi peperangan senantiasa beliau ikuti karena rindu untuk mendapatkan citanya yang besar, dan kerinduannya untuk menyusul Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Beberapa ustadz dikajian Sunnah beberapa kali membahas kisah ini, terutama ketika ada pertanyaan dari jamaah mengenai aksi bom bunuh diri yang dilakukan beberapa orang yang mengaku berjuang demi menegakkan Islam.
Kebanyakan Ustadz menjawab, “sungguh tidak benar jika kisah ini dijadikan pembenar aksi bom bunuh diri dijaman ini, karena dari kisah ini sudah sangat jelas, apa yang dilakukan Al Barra bin Malik membuahkan kemenangan bagi Umat Islam, apa yang dilakukan para sahabat nabi itu penuh perhitungan matang sehingga menghasilkan kesuksesan, berhasil mengalahkan kaum musyrikin. Bandingkan dengan aksi bom bunuh diri dijaman sekarang yang dilakukan beberapa kelompok, apa yang mereka lakukan tidak membuahkan kemenangan bagi pihak Islam, justru apa yang mereka lakukan membuat Islam makin terpuruk, Islam menjadi makin terfitnah karena ulah mereka”.
Waalahua’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here