Mantan Ketua PP Muhammadiyah Syafi`i Ma`arif menyebutkan bahwa gerakan radikal Islam memang ada di Indonesia. Faktor kemunculannya bisa berbagai macam, mulai dari kekuasaan yang otoriter, rasa keadilan yang tidak ada, hingga berkembangnya penyakit sosial di masyarakat.
Namun, ada juga radikalisme yang lahir dari sebuah rekayasa. Artinya keberadaannya sengaja dibentuk oleh kelompok tertentu untuk tujuan tertentu.
Kelompok radikal adalah orang-orang nekat yang tak mampu memetakan masa depan dirinya. Mereka kecewa dengan situasi yang tak kondusif. Mereka juga kesal dengan tersumbatnya saluran komunikasi. Itulah sebabnya, mereka muncul menjadi gerakan radikal.
Lantas, apakah radikalisme akan menjadi terorisme? Memang harus dibuktikan dengan kajian mendalam. Sebab, radikalisme bisa saja dilakukan secara perorangan, berkelompok, atau bahkan oleh suatu negara. Oleh karena itu diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif untuk melihat keterkaitan antara radikalisme dan terorisme. Karena terorism, tidak hanya dilakukan melalui tindakan berbasis keagamaan, bisa juga oleh basis-basis lain seperti ketidakadilan, kemiskinan atau diskriminasi terhadap sebuah kelompok.
Ini juga bisa kita lihat dari sejumlah peristiwa peledakan bom yang terjadi, motif bernuansa agama memang tak bisa dipungkiri. Namun, motif-motif lain seperti kriminal murni dan lainnya juga ada. Radikalisme memang memungkinkan untuk menjadi terorisme. Logikanya radikal belum tentu teroris tapi teroris pasti radikal. Demikian pula jika terjadi konflik horizontal yang bersikap radikal belum bisa dipastikan menjadi teror. Namun, jika tindakan tersebut telah merisaukan dan menganggu fasilitas umum maka tindakan tersebut bisa dikategorikan sebagai terorisme.
Dalam konteks lain, teror sejatinya tidak semata-mata hanya peledakan bom, tapi juga teror lainnya yang mengancam rasa aman masyarakat. Termasuk dalam kategori teror ini adalah bahaya narkoba, penganguran, penggusuran, dan lain-lain. Namun, point yang cukup penting adalah bagaimana upaya untuk memutus mata rantai radikalisme berkembang menjadi terorisme, yakni dengan membangun kesadaran bersama, bahwa baik radikalisme maupun terorisme sebagai musuh bersama.
Selain itu, untuk mereduksi berkembangnya radikalisme menjadi terorisme tak cukup dengan hanya mengandalkan pendekatan keamanan (security approach) semata. Harus ada pendekatan lain semacam pendekatan kemanusiaan. Apa pasal? Karena radikalisme dan terorisme seringkali bersumber tidak dari aspek yang tunggal, tapi dari sumber yang multi aspek.
Kemudian diperlukan 4 buah senjata penangkal untuk membendung perkembangan radikalisme maupun terorisme.
Pertama, adalah memperkuat semangat kebangsaan Pancasila. Pancasila sebagai ideologi nasional merupakan kumpulan nilai yang diyakini kebenarannya oleh Bangsa Indonesia dan digunakan untuk menata masyarakat. Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila dapat dijadikan dasar dalam motivasi dalam sikap, tingkah laku dan perbuatan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.Dan, ini diyakini akan mampu mengikis paham radikalisme maupun terorisme.
Kedua, memoderasi pemahaman keagamaan dengan toleran terhadap sesama. Sebagai bangsa yang terdiri dari ribuan pulau dan beragam suku bangsa, kita harus memupuk rasa toleransi terhadap siapapun yang berada di wilayah nusantara ini. Dengan demikian akan menjauhkan dari sikap menang sendiri dan ego golongan atau kelompok, karena kita memang dilahirkan berbeda-beda.
Ketiga, memperkaya wawasan dengan kearifan lokal.Kearifan lokal dapat didefinisikan sebagai suatu kekayaan budaya lokal yang mengandung kebijakan hidup, pandangan hidup (way of life) dan kearifan hidup. Kearifan lokal itu tidak hanya berlaku secara lokal pada budaya atau etnik tertentu, tetapi dapat dikatakan bersifat lintas budaya atau lintas etnik sehingga membentuk nilai budaya yang bersifat nasional. Dengan kearifan lokal dan budaya Indonesia akan mampu menangkal paham radikalisme.
Keempat, mewaspadai gerak-gerik mereka yang dipandu dengan database individu, kelompok dan jaringan radikalisme yang akurat. Untuk yang ke empat ini, motor utamanya adalah aparat penegak hukum termasuk juga badan nasional penanggulangan terorisme.
Bila empat senjata penangkal ini terus digerakkan oleh seluruh komponen masyarakat bangsa, maka perkembangan radikalisme maupun terorisme akan mengalami kesulitan untuk menemukan bentuknya. Sebab, mereka akan ‘layu’ sebelum mengembangkan dirinya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here