Tahun-tahun politik semakin dekat. Tetapi kita tidak bisa memungkiri bahwa keadaan rakyat Indonesia jauh dari kata siap. Mereka belum dewasa benar menghadapi gejolak-gejolak politik dan sosial yang marak di masyarakat. Sikap fanatisme yang berlebihan terhadap golongan politik tertentu membuat mereka tidak bisa lagi menyaring konflik sosial yang ada dan menjadi bulan-bulanan dari ancaman disintegrasi.

Kasus-kasus dari bidang lain juga ikut terseret dalam konflik regional. Tak hanya sosial dan politik, bidang agama, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain, juga dijadikan umpan oleh kelompok tertentu yang ingin memancing konflik. Mereka menginginkan konflik terjadi hanya untuk menunjukkan kelemahan lawan politik lalu dengan sendirinya masyarakat memiliki opini yang sesuai dengan apa yang diinginkan oleh oknum tersebut.

Masyarakat akan beropini bahwa partai politik tersebut salah dan partai inilah yang benar. Goal yang diinginkan akan cepat terwujud apabila masyarakat memiliki sumbu yang pendek dan mudah percaya pada informasi yang kabur, alias tidak jelas kebenaran fakta yang dimiliki oleh isu tersebut.

Masyarakat Indonesia tampaknya mengalami cobaan yang lumayan berat saat ini. TV Indonesia ramai-ramai memberitakan perihal bendera tauhid yang dibakar oleh banser NU saat perayaan hari santri nasional. Sontak, berbagai tudingan dilayangkan dari berbagai pihak yang mengaku murka dengan perbuatan tersebut.

Mereka beranggapan bahwa pembakaran tersebut merupakan hal yang tak pantas karena dalam bendera tertulis kalimat tauhid yang dimuliakan umat muslim. Lalu, tanpa memandang nilai-nilai sebagai manusia bermoral, mereka menuduh kafir, penistaan agama, darah halal, dan lain-lain.

Tudingan yang tanpa berdasar tersebut mendidihkan emosi masyarakat yang mudah percaya. Tetapi tanpa mereka sadari, perbuatan mengutuk dan menuduh kafir membuktikan bahwa mereka adalah sebatas penyembah simbol.

Kalimat tauhid tidak boleh dibatasi hanya dengan bendera hitam dan kalimat yang diucapkan ketika salat maupun doa, melainkan juga harus diresapi maknanya dalam hati lalu tercermin dari dirinya sebagai manusia yang beragama. Kalimat tauhid tidak akan hilang dari muka bumi bila telah hilang satu bendera, selama masih ada manusia yang menanam subur makna tauhid itu sendiri di dalam hati.

Mengenai peristiwa tersebut, beberapa klarifikasi dilayangkan dari berbagai pihak. Pihak NU mengatakan bahwa bendera yang dibakar tersebut adalah bendera milik HTI. Seperti yang kita ketahui, HTI adalah organisasi yang dibubarkan pemerintah dan dinyatakan terlarang sejak Juli 2017 lalu. Namun, alasan tersebut kurang mampu menyakinkan masyarakat dan membuahkan kritik dan ancaman dari berbagai pihak.

Setiap konflik yang muncul secara sporadik selalu menunai perhatian dari kalangan masyarakat. Baik masyarakat yang bijak menghadapinya atau masyarakat yang mudah tersulut dengan isu. Tapi, apabila Indonesia lebih banyak dihuni oleh orang yang tak bisa menggunakan akalnya dengan bijak, maka Indonesia akan  tinggal menunggu waktu untuk mengalami kehancuran.

Setiap konflik selalu dicari siapa yang bertanggung jawab, lalu mengarah pada pemimpin yang memangku pemerintahan saat itu, tanpa ikut memikirkan solusi dan jalan keluar permasalahan tersebut. Rakyat tak puas, lalu menuntut agar presiden diganti saja. Lalu ada masalah lagi dan rakyat terlalu cepat memutuskan untuk mengganti pemimpin.

Keadaan tersebut akan terulang lagi seterusnya hingga Indonesia dikepalai oleh presiden baru yang tak cakap. Hingga saat itu tiba, rakyat hanya bisa membandingkan presiden mereka saat itu dengan mantan presiden terdahulu.

Penulis juga turut menyesalkan tindakan pembakaran bendera tauhid yang diklaim sebagai bendera HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Bendera HTI secara fisik mengandung simbol yang universal dan diakui setiap muslim, terletak pada bacaan laillahailallah. Secara langsung maupun tidak langsung, hal tersebut melukai umat Islam di seluruh dunia, terlebih di Indonesia sendiri. 

Tetapi, penulis lebih menyayangkan reaksi masyarakat Indonesia yang cenderung berlebihan dan mengesampingkan persatuan dan kesatuan bangsa. Indonesia memiliki keberagaman yang majemuk. Tak hanya Islam, Indonesia juga memiliki pemeluk agama Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan bahkan agama yang belum tercantum sebagai agama yang diakui undang-undang.

Islam pun memiliki banyak aliran yang memiliki inti yang sama dari ajaran tauhid, mengaku bahwa tiada tuhan selain Allah. Keadaan tersebut gampang untuk diadu-domba oleh kalangan tertentu yang tidak menginginkan integrasi terwujud. Maka, upaya pemecah belah bangsa Indonesia sangat terkutuk dan tidak bermoral, bagaimanapun bentuknya.

Penulis :  Dewa Chandra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here