Internet atau dunia maya memang menjelma bak pisau bermata dua. Di satu sisi, dengan seperangkat fiturnya yang beragam, tiap orang dimungkinkan mengakses apa saja. Di sisi lain, kebebasan akses yang tak terbatas, ternyata juga memungkinkan tiap orang terjerumus ke dalam apa saja.

Terlepas efek yang ditimbulkannya, yang jelas, internet telah secara nyata termanfaatkan sesuai eksistensinya: sebagai ruang informasi dan komunikasi paling signifikan. Tak terkecuali oleh kelompok ekstremis brutal (teroris), ruang ini jadi wadah potensial mereka, baik untuk menebar paham-paham kekerasan (ekstremisme, terorisme), maupun untuk merekrut calon-calon teroris. Internet jadi lahan subur untuk itu.

Dalam Workshop & Kelas Menulis “Ekstremisme dan Psikologi Kekerasan” Indeks-Qureta-PPIM di Yogyakarta, hal ini dijelaskan secara detail oleh dosen di Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada (UGM), M. Najib Azca. Menurutnya, upaya penyebaran jihadisme itu justru bermula dari hal-hal sederhana yang minim disadari.

“Ada banyak simulasi game di internet. Misalnya, This is Our Call of Duty. Simulasi game yang memposisikan para pemainnya sebagai tentara atau jihadis ini, tanpa disadari, banyak menyasar kalangan anak dan remaja. Ini salah satu upaya kelompok ISIS melakukan perekrutan calon teroris di dunia maya.”

Peneliti senior di Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM itu juga menerangkan bahwa pola penyebaran jihadisme ala ISIS berbeda dengan pola organisasi induknya, al-Qaeda. Meski sama secara tujuan, membangun negara Islam, tapi dari segi pengupayaannya saling berlainan.

“Dalam aksi, jihadis pro-ISIS gunakan kekerasan. Sementara, yang pro-al-Qaeda, lebih bersifat gerakan etik. Cara mereka berbeda, meski tujuannya sama,” jelas Najib kembali melalui materinya bertajuk Propaganda Terorisme di Media/Internet.

Perbedaan itu bisa dilihat juga secara jelas dalam website jihadis mereka di Indonesia. Konten-konten dalam al-mustagbal.net milik jihadis pro-ISIS berbeda dengan wacana-wacana yang dipaparkan dalam ar-rahmah.com.

“Lihat saja. Meski tujuan mereka sama, tapi yang tampak justru penegasian satu sama lain. Wacana mereka tidak ketemu.”

Apa yang Baru dari ISIS?

Sampai sejauh ini, tak banyak orang tahu mengapa ISIS, sebagai sebuah gerakan pengusung jihadisme brutal, mampu eksis dan bertahan. Sejak didirikan pada tahun 2004 dengan nama awal al-Qaeda di Irag (AQI), ISIS mampu mencipta dominasi yang tak kecil. Bahkan, ketika semakin dibombardir sekalipun, daya cengkramnya justru semakin menguat.

Jika dibanding dengan induknya, al-Qaeda, ISIS punya seperangkat alat canggih untuk membangun militansinya sebagai kelompok penghancur. Dari segi kapabilitas militer, ISIS diperkirakan punya 25.000 pasukan di Suriah dan Irak. Semuanya adalah pejuang yang sebagian besar berasal dari dunia Arab-Muslim.

“Kepemilikan senjatanya juga sangat luar biasa. ISIS memiliki jumlah persenjataan ringan dan berat yang cukup banyak. Sebagian besar senjata itu berasal dari para tentara Suriah dan Irak.”

Bahkan, ISIS dinyatakan sempat mengontrol sekitar ⅓ teritori Irak dan sekitar ¼ hingga ⅓ wilayah Suriah. Semuanya merupakan tempat tinggal dari 5-6 juta warga.

“Ini yang tidak pernah terjadi dalam gerakan-gerakan teroris sebelumnya, seperti di al-Qaeda. Al-Qaeda lebih merupakan gerakan kelompok etik, tak pernah membangun struktur teritorial.”

Belum lagi soal adanya lembaga administrasi alternatif ISIS di wilayah kekuasaannya. Nyaris semuanya mampu dikontrol, termasuk pendidikan, peradilan, kepolisian, dan jejaring penegakan hukum.

Pun demikian dengan kontrolnya atas sejumlah infrastruktur di kedua negara ini, termasuk sejumlah ladang minyak. Maka tak ayal jika kekuatannya semakin melejit saja.

Siapa dan Bagaimana Orang Bisa Bergabung Jadi Jihadis ISIS?

Umumnya, anggota-anggota ISIS berasal dari aktivis jihadi yang memang sudah melalui proses kaderisasi yang matang. Mereka yang memilih jalan jihad al-Baghdadi ketimbang yang pro al-Qaeda adalah mereka yang kemudian bergerombol dalam ISIS.

“Endorsement Abu Bakar Ba’asyir, sebagai mantan Amir Jamaah Islamiyah (JI) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), cukup penting dan membantu memobilisasi para aktivis jihadi. Ditambah lagi, ISIS telah cukup sukses memancing generasi baru aktivis jihadi yang akrab dengan penggunaan teknologi dan media digital, baik yang berasal dari sayap wahabi maupun aktivis politik.”

Di sinilah peran internet atau dunia maya berhasil membentuk penguatan kelompok teroris ISIS ini. Bahwa mereka yang memilih bergabung, kebanyakan justru dari kalangan open source jihadist atau digital native jihadists.

Lalu, mengapa mereka ingin terlibat dan berjihad di jalan kekerasan? Apa saja faktor-faktor pendorongnya sehingga mobilisasi jihad ISIS tampak begitu sukses dalam hal merebut pasukan lebih banyak ketimbang di masa-masa awal terbentuknya?

“Indoktrinasi melalui ideologi paling vital. Dalam segi agama, misalnya, ada yang disebut sebagai eskatologi Islam. Paham bahwa pertempuran akhir zaman kelak akan terjadi di wilayah Sham (sering disebut sebagai Greater Syria, mencakup Suriah, Jordania, Libanon, Palestina, dan Israel), terus dijejali.”

Di samping itu, kepercayaan kontemporer juga cukup berpengaruh. Realitas kekacauan dan penderitaan yang bersumber dari Arab Spring terus-menerus dieksploitasi sebagai jalan menuju restorasi kekhalifaan Islam, seperti dinyatakan secara tegas dalam buku best-selling The Two-Arm Strategy.

“Dijejali pula paham tentang adanya kekejaman pemerintah atas kaum Muslim Sunni. Ini yang sering memancing pemberitaan di pers-pers lokal. Terlebih, jika dibanding dengan Afghanistan pada akhir 80-an dan 90-an, jihadis Indonesia sendiri memang kebanyakan memilih bergabung untuk berperang, bukan lagi hanya untuk berlatih.”

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Mengerti dan tahu bahwa internet memberi kemungkinan apa saja, maka kita pun bisa memanfaatkannya demikian. Sekadar mempelajari pola persebaran jihadisme kelompok ekstremis brutal saja, kiranya sudah lebih dari cukup.

Dari sana, cara perumusan pencegahannya justru akan mudah dicapai. Tentu ini jauh lebih baik ketimbang terus-terusan mengecam produk ilmu pengetahuan (internet) yang sudah jadi keniscayaan itu. Tak perlulah ikut-ikutan jadi penganut kaum bumi datar.

Apa yang ingin ditunjukkan oleh Najib dalam bahasan itu adalah bahwa pola perekrutan ISIS hari ini sangat berbahaya. Meski awalnya melalui simulasi game, yang itu sering dimainkan oleh generasi-generasi labil, kemungkinan besar justru itulah yang paling berpotensi membangun semangat jihadisme, bahkan dari sejak dini.

Akibat rentannya dunia maya sebagai ruang persebaran ekstremisme dan terorisme, maka upaya penanggulangan pun tak sekadar harus bertumpu pada pengadaan kebijakan oleh otoritas di bidang terkait seperti Kominfo. Masyarakat sendiri harus benar-benar tahu bagaimana pola persebaran itu berjejaring dan mendorong untuk mengambil sikap perlawanan atasnya.

Ya, semua harus terlibat dalam upaya penanggulangan terorisme. Dalam keluarga, itu bisa dimulai dari pola pengawasan pemakaian gawai oleh orangtua untuk anak-anaknya. Apalagi ada simulasi game yang ternyata punya potensi perekrutan yang hebatnya luar biasa.

Untuk mahasiswa, terutama bagi mereka yang telah ikut Workshop & Kelas Menulis Countering Violent Extremism (CVE) ini, bisa mengupayakannya melalui penulisan-penulisan seputar kontraterorisme di media-media massa maupun sosial. Bekal ilmu yang telah diterima selama 3 hari dalam kegiatan ini justru akan lebih bermanfaat jika digunakan sebagaimana peruntukannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here