Sebagai organisasi transnasional, HTI tidaklah berdiri sendiri. Di belakangnya masih ada Hizbut Tahrir Internasional (HT-IN) Tentu saja mereka tak akan tinggal diam setelah HTI dibubarkan oleh pemerintah Indonesia. Dengan segala macam cara, HT-IN akan mencari celah untuk menjaga eksistensi jaringan mereka di Indonesia.

Keberanian Banser membakar bendera HTI di Garut membawa begitu banyak hikmah. Kita semua jadi tahu bahwa jaringan eks HTI masih bergerilya dan menunggu momen yang tepat untuk bangkit, merebut tampuk kepemimpinan di Indonesia.

Mengapa saya berani sebut itu adalah bendera HTI? Pertama, pembawa bendera tersebut sudah mengaku simpatisan HTI, Kedua, pembawa bendera HTI tersebut bukan santri yang diundang dalam acara. Ketiga, dalam peraturan disebutkan bahwa dilarang membawa bendera lain selain bendera Indonesia. Kok nekat? Atau memang sengaja ingin menunjukkan eksistensinya?

Namun masih ada sebagian kecil lainnya yang masih ngotot bahwa itu adalah bendera tauhid. Bahkan beberapa tokoh politik ikut menyuarakan bahwa itu bukan bendera HTI. Hal ini tentu saja aneh, mengapa repot-repot mau mengurusi hal semacam ini? Bukankah mereka terkesan membela HTI? Semakin mereka berkelit, publik akan semakin mengenali siapa saja simpatisan maupun pendukung HTI.

Narasi yang dibangun oleh kelompok HTI bahwa bendera yang dibakar oleh Banser adalah bendera tauhid. Jubir HTI mengatakan bahwa HTI tidak punya bendera. Padahal faktanya, sebelum dibubarkan, HTI selalu membawa bendera tersebut dalam sejumlah aksinya.

Saat ini umat Islam yang tidak terlalu paham soal HTI dan misi menegakkan khilafah di Indonesia pun diseret-seret, diprovokasi bahwa Banser telah membakar bendera tauhid. Banser harus dibubarkan. Lalu setelah itu muncullah ajakan-ajakan fiktif, aksi bela kalimat tauhid. Apa tujuannya? Tentu saja sekadar propaganda.

Aksi bela tauhid? Pembela tentu saja kedudukannya lebih tinggi derajatnya daripada yang dibela. Lalu dengan membela tauhid, bukankah berarti orang-orang pembela ini memosisikan kedudukannya di atas kalimat tauhid itu sendiri?

GP Ansor yang menaungi Banser juga telah merespons kejadian ini dengan bijak. Banser meminta maaf karena telah menimbulkan keributan. Tapi di sisi lain Banser menyatakan dengan sangat jelas bahwa tindakan penertiban dan pembakaran terhadap bendera HTI adalah sebuah eskpresi spontan, atas dasar kecintaan Banser terhadap bangsa dan tanah air.

Lebih mencurigakan lagi saat aksi bela tauhid jilid 1 yang dilakukan di Patung Kuda dan Kantor Menkopolhukam lalu. Di tengah demonstrasi, seorang orator meneriakkan tagar 2019 ganti presiden. Menurutnya, Presiden Joko Widodo telah banyak melakukan kebohongan dan mengkriminalkan ulama dan dinilai anti-Islam.

“Pemimpin yang bohong mau kita beri kesempatan dua periode atau tidak? Pemimpin yang zalim, halal atau haram?” Pernyataan tersebut kemudian dibalas “tidak” oleh massa.

Inikah yang disebut aksi bela tauhid? Lalu mengapa ujung-ujungnya teriak ganti presiden? Ujung-ujungnya menyangkut politik?

Kemudian massa yang tergabung dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-U) dan unsur lainnya akan menggelar Aksi Bela Tauhid 211. Aksi jilid 2 ini akan dipusatkan di depan Istana Kepresidenan Jakarta.

Aksi rencananya akan digelar hari Jumat setelah salat Jumat berjamaah di Masjid Istiqlal. Setelah salat, massa akan long march ke depan Istana untuk menyampaikan tuntutannya. Kegiatan juga akan diikuti massa yang diinisiasi oleh Persaudaraan Alumni (PA) 212.

Perlukah aksi ini? Jika tujuannya memang aksi membela tauhid murni, tentu tidak efektif. Kepolisian telah mengusut terkait kasus ini dan menyelesaikannya. Jelas secara hukum kasus ini sudah terpecahkan. Kecuali apabila kasus ini memiliki maksud dan tujuan lain, seperti membuat pemerintah chaos seperti aksi 212 lalu. Tentu saja hal ini akan membuat HTI dan dalang di baliknya tertawa bahagia apabila aksi 211 membuat pemerintah jatuh.

Kita, sebagai masyarakat, lebih baik tidak usah ikut-ikutan hal seperti itu. Saat ini kondisi bangsa sedang membutuhkan bantuan kemanusiaan. Bencana alam, tsunami dan gempa, serta kejadian pesawat jatuh jauh lebih membutuhkan perhatian kita dibanding hal-hal berbau provokasi politik yang dibungkus dengan isu agama.

Yang perlu kita ingat adalah HTI menginginkan ideologi Pancasila diganti. Organisasi seperti itu sudah selayaknya diberantas. HTI kini mulai menunjukkan eksistensi, dan kita warga Indonesia sudah sepantasnya memperjuangkan negeri ini. Kita tidak boleh lengah dan tertipu oleh tipu daya mereka yang mengatasnamakan agama. Ingat, NKRI harga mati!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here