Jutaan anak korban perang saudara di Suriah terusir dari kampung halaman. Mereka mengalami kekerasan, intimidasi, luka-luka, kelaparan bahkan meninggal. Bagi kita yang tinggal di Indonesia, jumlah tersebut bisa terdengar hanya sebagai angka statistik. Wajar saja, Indonesia berjarak ribuan kilometer dari Suriah.

Film Never Leave Me (2017) karya Aida Begic akan menghadirkan ke depan mata kita bagaimana rasanya kelaparan, kehilangan orangtua, menderita intimidasi, kekerasan. Sutradara asal Bosnia tersebut memvisualisasikan kondisi nyata yang dialami anak-anak korban perang saudara di Suriah.

Aida Begic mengangkat tema cerita Never Leave Me berdasarkan kisah nyata. Ketiga anak laki-laki pemeran utama film ini adalah anak-anak korban perang Suriah. Never Leave Medikirim Bosnia untuk dinominasikan dalam Film Berbahasa Asing Terbaik Academy Awardske-91 yang akan digelar tahun 2019.

Film ini berkisah tentang Isa (Isa Demlaki), remaja laki-laki asal Suriah yang dikirim ke panti asuhan di Turki setelah menyelesaikan pemakaman ibunya. Di panti asuhan tersebut, ia sekamar dengan Ahmad (Ahmad Husrom) dan Motaz (Motaz Faez Basha), sesama anak pengungsi. Mereka bertiga memulai pertemanan yang tidak mudah.

Untuk mendapatkan uang, Isa mengajak ketiga “adik-adiknya” berdagang. Ada yang berjualan tisu. Ada juga yang menjual jasa timbangan berat badan. Isa menjadi bos mereka. Isa, Ahmad, dan Motaz sebenarnya bolos sekolah untuk menjual tisu. Dooa (Carole Abboud) ibu asuh ketiga anak tersebut dan anak-anak lain menyuruh mereka bersekolah bukan berjualan.

Never Leave Me cukup detail menggambarkan kehidupan anak-anak pengungsi Suriah. Kadang anak-anak itu diperlakukan dengan baik. Ada orangtua yang mengingatkan mereka untuk rajin sekolah daripada jualan. Namun tidak jarang juga mereka mengalami perisakan dari penduduk lokal yang lebih “berkuasa”. Ancaman perdagangan dan kekerasan terhadap anak tergambar jelas dalam film ini.

Ada dua karakter anak perempuan yang menjadi “preman” dalam film ini. Dua perempuan itu turut “merisak” anak laki-laki. Deskripsi tersebut cukup unik. Mengingat stereotip dalam film umumnya, menempatkan anak perempuan hanya sebagai korban.

Di luar jalan cerita yang mengaduk-aduk emosi, Aida Begic secara cerdik menyisipkan kisah lucu. Doa Motaz mampu membuat penonton tersenyum kecil melihat kepolosan impian anak kecil. Tentu saja adegan tersebut menghindarkan penonton dari kejenuhan.

Perempuan “penguasa wilayah” yang selalu mengganggu Isa, Mohtaz dan Ahmad sebetulnya cukup unik untuk dieksplorasi. Sayang, karakter kuatnya dibiarkan begitu saja. Ia hanya ditampilkan sebagai pengganggu oleh Aida Begic. Bagaimana awal dan apa utang yang harus ditanggung Isa pun tidak jelas. Ada lompatan cerita di situ.

Kehidupan menyentuh anak-anak pengungsi dalam Never Leave Me ditampilkan secara otentik dengan cukup meyakinkan. Latar belakang Aida Begic sebagai korban perang Bosnia di tahun 1990an serta para pemeran utama yang memang korban perang Suriah membuat film ini begitu natural.

Bagi penonton yang memiliki anak, tentu saja gambaran rinci kehidupan anak-anak dalam Never Leave Me akan mampu mengaduk-aduk perasaan. Namun, ketiadaan konflik yang mengubah hidup para tokoh utama membuat film ini terasa cukup datar.

Apa yang terjadi setelah Isa lepas dari penagih utang? Apakah ia menjadi lebih pemberani ataukah mempererat persahabatan? Bagaimana dampak kejutan yang terjadi setelah Motaz pulang dari kontes menyanyi?

Aida Begic sebenarnya punya kebebasan menafsirkan mengingat film ini adalah fiksionalisasi kisah nyata. Never Leave Me bukan film dokumenter yang harus disiplin dengan fakta. Namun tampaknya ruang untuk berfantasi secara logis guna menghadirkan konflik yang lebih menggigit kurang maksimal dilakukan sang sutradara perempuan tersebut.

Oleh karena Never Leave Me diangkat dari kisah nyata, bila dilihat sebagai dramatisasi atas dokumenter, film ini cukup berhasil. Namun bila dinilai sebagai fiksi murni, film ini terasa kurang dramatis. Boleh dibilang tidak ada konflik utama yang mendebarkan.

Walaupun banyak adegan potensial yang bisa dieksploitasi menjadi konflik utama menegangkan. Durasi menuju klimaks film pun terlalu lama. Hampir 45 menit penonton disuguhi dinamika kehidupan para anak pengungsi yang cukup datar.

Dalam standar film fiksi, konflik kunci serta dampaknya bagi para karakter utama dalam Never Leave Me masih kurang terasa dibanding Children Of Heaven (1997) atau Kite Runner (2007). Dua film terakhir adalah film bertema anak-anak dan korban konflik.

Sekalipun diperankan aktor-aktor non profesional, Aida Begic mampu mengalirkan kisah sedih menyentuh hati tentang anak-anak korban perang. Isa Demlaki, Ahmad Husrom dan Motaz Faez Basha bermain cukup percaya diri untuk ukuran aktor-aktor non profesional korban perang  Never Leave Me memberikan deskripsi di waktu yang tepat tentang kehidupan anak-anak korban perang Suriah.

Di luar konflik yang kurang menggigit dan beberapa lompatan cerita, Never Leave Mebenar-benar menyajikan kekuatan pertemanan,cinta dan harapan di wajah-wajah anak penderita trauma pasca perang. Film ini sangat perlu ditonton oleh politisi-politisi yang memperebutkan kekuasaan agar mereka menyadari konsekuensi tindakan yang diambil terhadap anak-anak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here