Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sragen meminta para orang tua agar mewaspadai indikasi gerakan radikal yang diduga sudah mulai masuk ke sejumlah sekolah. Indikasi itu terlihat dari adanya sekolah tertentu yang mengarah pada gerakan sentimen terhadap pemerintah dan kelompok masyarakat.

Ketua GP Ansor Sragen, Endro Supriyadi, kepada wartawan Minggu (23/6/2019) mengatakan, para orang tua harus lebih selektif dalam memilih lembaga pendidikan bagi anak-anak mereka. Dia mengingatkan gerakan radikalisme yang masuk ranah pendidikan. “Jangan sampai tertipu perilaku anak didik yang terkesan lebih religius,” ujarnya.

Padahal, jelasnya, religius anak dalam keseharian tetap harus dipantau kesehariannya agar tidak terjerumus paham radikalisme. Seperti kasus bom di Kartasura beberapa waktu lalu, pelakunya adalah seorang remaja yang bukan tidak mungkin terpapar radikalisme saat masih duduk di bangku sekolah.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen juga diminta mengawasi seluruh lembaga pendidikan. Kalau perlu harus dilakukan pantauan secara ketat agar paham radikalisme tidak diajarkan ke anak didik. “Kami berharap ke depan ada wawasan kebangsaan di dunia pendidikan tanpa doktrin yang bisa memicu perpecahan. Virus radikalisme mulai masuk ke beberapa sekolah. Orang tua harus peka,” jelasnya.

Anggota Komisi IV DPRD Sragen, Fathurrohman, mengatakan bila indikasi yang disampaikan GP Ansor benar, maka Disdikbud harus jeli dan segera mengecek. Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu meminta Disdikbud mengawasi kegiatan ekstrakurikuler sekolah yang bermuatan agama. “Guru ektrakurikuler mestinya melaporkan tentang materi ekstrakurikuler agama ke Disdikbud sebagai sarana pengawasannya,” tegasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here